agai wanita yang tak ber-ka-be saja
Ibu pertiwi terus melahirkan putra-putranya
Pahlawan-pahlawan bangsa
Dan patriot-patriot negara

(Bunga-bunga
kalian mengenalnya
Atau hanya mencium semerbaknya)

Ada yang gugur gagah dalam gigih perlawanan
Merebut dan mempertahankan kemerdekaan

(Beberapa kuntum
dipetik bidadari sambil senyum
Membawanya ke sorga tinggalkan harum)

Ada yang mujur menyaksikan hasil perjuangan
Tapi malang tak tahan godaan jadi bajingan

(Beberapa kelopak bunga
di tenung angin kala
Berubah jadi duri-duri mala)

bagai wanita yang tak ber-ka-be saja
Ibu pertiwi terus melahirkan putra-putranya
Pahlawan-pahlawan dan bajingan-bajingan bangsa

(di tamansari
bunga-bunga dan duri-duri
Sama-sama diasuh mentari)

Anehnya yang mati tak takut mati justru abadi
Yang hidup senang hidup kehilangan jiwa

(mentari tertawa sedih memandang pedih
Duri-duri yang membuat bunga-bunga tersisih)

Puisi dan Musik Mengenang Pahlawan,
Jakarta, 1994
Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air (Kumpulan sajak, Oyon Sofyan, 1995)