Merawat Aksara

Merawat Aksara

Harga    : 65.000

Penulis   : GERAKAN SENIMAN MASUK SEKOLAH (GSMS)

Penerbit  : Ernest (CV. Achmad Jaya Group)

Halaman : xxi +299 hlm; 13 cm x 19 cm

ISBN       :  978-602-61917-9-3

Cetakan pertama, November 2017


Bau menyengat menguar dari aspal abu-abu kehitaman, menjadi temanku di penghujung siang ini.Bangku taman menjadi tempat meresapi semua debu perjalanan terjal dalam kisah hidupku.Genre hidup yang tak pernah terterka sebelumnya.Jika tahu, akan kuminta pada Tuhan untuk tak perlu repot menjadikanku salah satu hambanya.

Dosanya di masa lalu mengantarkanku pada penderitaan ini. Di mana ia melenyapkan gadis kecilnya hanya untuk mengais koin-koin kehidupan di dunia fana dan sekarang jati dirikulahyang harus dipertaruhkan. Aku diharuskan berlakon menjadi gadis kecilnya. Pada saat aku belum mengenal permainan, liciknya aku dengan senantiasa menuruti semua titahnya. Dengan rok, baju, dan sendal yang seluruhnya bewarna pink, rambut hitam legam yang dikuncir, menjadi pakaian yang selalu kau sematkan padaku. Aku diminta berkeliling menyapa semua teman sebayaku dengan tutur kata penuh kelembutan. Tak lupa senyum ramah menghiasi untuk menghabiskan waktu dengan boneka beruang di tangan masing-masing.Keseharian yang mengharuskanku bersahabat dengan luka. Membuat segalanya terasa sulit untuk kulalui. Walau sudah kulakoni sekian lama, tak membuatku terbiasa dengan perih yang menggerogoti setiap waktu. Ruang pengap yang memenjara. Dengan hiasan topeng keanggunan yang senantiasa melekat di wajahku, tetapi menghadirkan hal menjijikan. Dan entah mengapa Tuhan seperti sudah berkompromi dengan wanita itu yang lekuk tubuhnya hampir sempurna untuk ukuran perempuan. Itu menjadikanku manusia yang tidak memiliki kejelasan dalam hidup.

Itu adalah kegiatan favoritkusebelum aku menyadari bahwa pribadiku sudah dipermainkan. Saat itu aku berusaha untuk memahami semuanya, tapi sekeras apapun aku berpikir hanya tangisan yang meluncur di bibirku. Tak pernah lagi terpahat senyum di wajahku. Hanya akan ada bulir air mata keputus-asaanku. Aku ingin menyerah dan keluar dari sekapan ini. Dan saat aku mencoba bebas dari hal memuakan ini, kau meneriakiku dengan ungkapan yang membuat hatiku berdarah. Cukup sudah aku tak ingin terjebak dengan topeng keanggunan ini yang semakin lama semakin merekat sehingga membuatku lupa dengan jati diriku yang sesungguhnya.

Aku ingin seperti pejantan lain. Bersikap gagah  menjadi pelindung dan bukan dilindungi. Inginkumiliki tubuh ini sendiri sebab muak rasanya ketika satu tubuh memiliki dua kepribadian. Aku hanya dapat memoles kokoh ketegaranku hingga aku menemukan jalan kepulanganku setiap detik. Namun, hanya kepahitanlah yang semakin menimbun.

Ingin rasanya pergi.Pergi ke tempat yang tak bisa kau jangkau agar aku dapat merdeka atas diriku. Aku ingin memperbaiki jiwa maskulinku yang sudah kau pangkas habis bahkan saat ia belum tumbuh. Namun, semua selalu terhalang oleh sesuatu yang begitu besar yang telah Tuhan anugerahkan padaku yaitu cinta yang dapat mengalahkan kebencian yang sudah mendarah daging dalam setip inci tubuhku. Demi menjaga kewarasanmu biarlah kewarasanku yang semakin lama makin menipis dan mungkin saja akan habis. Saat ini, aku hanya menikmati setiap butir kerinduan. merajalela hingga bagian terdalam diriku.

Skills

Posted on

21/01/2018

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one × 1 =