“Sudahlah Deo, Istirahat saja dulu”, pinta Pak Andri.

“Kalau kita istirahat dan bermalam disini, besok tak ada yang mengajar di sekolah Pak”, sahut Deo terengah-engah.

Sesaat aliran darah terasa naik dan mengumpul di pipi membuat wajah Pak Andri merona. Mendengar jawaban Deo, sontak Pak Andri kaget terperangah dengan jawaban muridnya. Beliau menunduk menyembunyikan raut wajahnya

Deo adalah salah satu murid SMA 1 Meranti. Dia tinggal di Kampung Nabo, kampung terpencil di Kecamatan Meranti Kabupaten Landak Kalimantan Barat. Dikatakan terpencil karena akses menuju Kampung Nabo lumayan memakan waktu. Jika dilewati dengan berjalan kaki, Deo bisa mengabiskan waktu hingga empat jam perjalanan. Inilah yang membuat Deo terkadang enggan untuk pulang kerumah. Waktu libur natal pun terkadang dia habiskan di Meranti bersama dengan kawan-kawannya.

Hari ini dia pulang kerumah bersama dengan Pak Andri. Guru kelasnya ini sedang melakukan kunjungan rumah. Kunjungan ini bukan dikarenakan Deo bermasalah di sekolah, tetapi karena Pak Andri penasaran tentang Kampung Nabo. Mendengar cerita kawan-kawannya soal Deo hampir tak pernah pulang kerumah, Pak Andri ingin melihat langsung keadaan Kampung Nabo. Kampung kelahiran Deo.

Deo murid yang tak terlalu istimewa. Dia sama seperti remaja pada umumnya. Setiap pagi dia pergi ke sekolah untuk belajar dan mengikuti beberapa ekstrakurikuler. Sepulang sekolah dia bekerja serabutan. Apa saja dia kerjakan agar mendapatkan uang. Mulai dari menyadap getah karet hingga pekerja kasar. Ini harus dilakukannya agar tetap bisa bersekolah. Mungkin hal ini juga yang membuat Pak Andri cukup bersimpati dengan Deo.

Pak Andri adalah guru kontrak asal Jawa yang ditugaskan di SMA 1 Meranti. Belum ada setahun sejak kedatangannya, tapi beliau sudah akrab betul dengan aktivitas dan kebiasaan orang suku Dayak di Meranti. Hampir semua kegiatan dan upacara adat didatanginya. Beliau pun tak sungkan menawarkan diri untuk ikut serta dan berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Hingga murid-murid di sekolah tak enggan mengundang beliau untuk mengikuti berbagai macam acara di kampungnya. Bermodalkan motor tua warisan, Pak Andri menjajahi kampung-kampung muridnya. Terkadang, beliau juga bermalam untuk berbaur dengan masyarakat. Duduk bersama, bercerita dan saling bertukar pendapat. Ini lebih istimewa baginya dari pada hanya sekedar duduk terdiam menikmati tontonan televisi yang makin tak jelas tuntunannya. Atau obrolan bersama jangkrik dan beberapa keluwing yang tiap malam tiba, mereka selalu datang menjajaki diri di teras rumahnya.

“Nanti sepulang sekolah kita pergi ke kampungmu ya, Boi”, ujar Pak Andri

“Memangnya apa yang hendak Pak Andri lakukan di kampung saya?”, jawabnya setengah bertanya.

“Wah banyak Boi, salah satunya saya ingin berkunjung kerumahmu”,sahut Pak Andri.

“Tak ada yang spesial bah Pak di kampung Saya. Apalagi rumah Saya. Kecil, pengap dan kotor pula. Jalan kesana juga jelek, banyak berlobang. Bapak pasti tak suka”, ucapnya meyakinkan.

“Kau ini bisa saja berkelit. Bapak ini tidak sedang jadi juri lomba kampung terindah, Boi. Bapak hanya ingin bertemu dengan orang tua kau saja”, sahut Pak Andri lagi.

“Iyalah, terserah bapak saja. Tapi jangan mengeluh boh  Pak”, gurau Deo.

Mereka berdua pun sepakat untuk pergi ke Kampung Nabo. Deo pulang kampung dan Pak Andri mengobati rasa penasarannya terhadap kampung tersebut.

Selepas bel pulang berbunyi, Deo bergegas pulang ke rumah singgahnya. Dia berganti pakaian dan bersiap menuju rumah Pak Andri. Belum jauh dia berjalan, suara motor Pak Andri sudah terdengar semakin nyaring. Rupanya beliau sudah tak sabar menunggu kedatangan Deo. Simpul senyumnya makin jelas terlihat. Kacamata dan model rambutnya yang khas membuat orang bisa menebak guru kontrak itu meskipun dari kejauhan.

“Pak, Pak Andri”, teriak Deo.

Senyum Pak Andri semakin mengembang. Klaksonnya dibunyikannya berulang kali. Kali ini disertai dengan lambaian tangan. Celana jeans belel, kaos oblong dan jaket menempel di tubuhnya. Beliau dan muridnya sudah seperti teman sebaya.

“Sudah siap, Boi?”, tanyanya pada Deo.

“Siap bos, brrmm…brrmm siap bertempur”, ujar Deo.

“Kali ini ku ijinkan kau memboncengkan aku. Tapi tetap hati-hati jangan mengebut, soalnya motor bapak ini motor tua”, sahut Pak Andri mengingatkan.

Pak Andri duduk di jok belakang. Deo memegang kemudi. Perlahan kecepatannya semakin bertambah. Mereka berdua bercerita dan sesekali tertawa bersama. Hingga jalan yang dilalui mulai terjal. Jalanan beraspal digantikan dengan bebatuan tak beraturan. Sepeda motor pun terkadang oleng, bertarung dengan bebatuan kasar. Kepulan asapnya berubah kehitaman, menandakan sepeda motor tak sanggup menanjak. Jalanan pun berganti tanah kuning yang licin. Di kanan kiri jalan, daun sawit melambai tampak hijau. Buah sawit menggerombol seperti sedang bergosip. Bahkan rumput di sekitar pohon sawit ikut berkelompok dan mendongak serasa mendengar gosipan yang keluar dari buah-buah sawit. Pemandangan ini tentunya sangat lazim ditemui di tanah Borneo. Hampir semua tempat menancapkan tanaman sawit yang luas. Baik milik negara maupun perorangan.

Dua jam berlalu, akhirnya mereka sampai juga di Kampung Nabo. Rumah yang sederhana dan serba apa adanya menyambut kedatangan Pak Andri dan Deo. Rumah itu tak asing bagi Deo, meskipun dia sendiri jarang sekali menghabiskan waktu di kampung asal kelahirannya itu.

“Rumah sepi Pak. Emak dan Bapak belum pulang dari ladang”, ujar Deo.

“Biarlah boi, bapak duduk di teras saja sambil cari angin”, sahut Pak Andri.

“Baiklah, biar saya ambilkan air minum dulu”, ucapnya menimpali.

Kampung ini tampak bahagia. Sepanjang waktu terlihat orang-orang yang kesana kemari menunjukkan senyum terbaik mereka. Seolah-olah saling beradu menampilkan aksi perdamaian. Basa-basi meruah dari balik mulut-mulut pencibir. Entah itu tulus atau hanya tipu-tipu belaka. Yang jelas Pak Andri merasa senang bisa berada di kampung kecil ini.

Deo datang membawa segelas air minum. Diberikan minuman itu pada guru yang sesaat lebih mirip abangnya. Diteguk minuman itu sekali dua kali, lalu diletakkan di meja kayu.

“Maaf boh Pak, cuma ada air putih”, ujar Deo.

“Tak apa, ini saja nikmat bukan kepalang”, sahut Pak Andri.

“Sebentar lagi emak dan bapak juga pulang. Kalau Pak Andri mau mandi atau istirahat masuk saja ya”, ujar Deo lagi.

Pak Andri hanya tersenyum mengangguk. Menikmati senja di kampung orang memang selalu istimewa. Bahkan bersama senja, manusia bisa membuat pertemanan. Senja tak pernah berdusta. Dia selalu hadir, meskipun tak selalu setia tampil mempesona. Jendela-jendela kayu mulai ditarik, dirapatkan dan menutup. Bocah-bocah kecil berlarian bersama kelelawar yang terbang merendah. Ibu-ibu dan anak perempuan mereka berduyun-duyun pulang menggendong keranjang penuh sayur mayur, jamur, rebung ataupun buah-buahan. Beberapa pula mengenakan kain untuk menutupi tubuh mereka seusai mandi di sungai. Rambut basah dibiarkan terurai menutupi bahu-bahu mulus, yang bahkan air pun rela melesat. Alam memang serba baik. Bahkan mereka perusak pun masih diberikan kemewahan, dimanjakan dan difasilitasi berbagai macam hasil bumi. Hanya saja para perusak tak tahu diri itu yang kerap kali tak menghiraukan kebaikan semesta. Membiarkan semesta berulang kali berusaha sendiri untuk reinkarnasi.

Tampak dari kejauhan sepasang suami istri mendekat. Si ibu mengenakan kaos hijau lumut bercampur coklat tanah. Nampak asli. Dia menggendong keranjang penuh rebung. Si bapak mengenakan kaos biru agak kusam berpadu celana hitam setinggi mata kaki. Mereka menunjukkan raut wajah ramah yang penuh tanya. Sesaat Deo muncul dari balik pintu, membawakan keranjang yang digendong perempuan tuanya dan mengenalkan bapak gurunya yang sedari tadi duduk di teras memandang segala keajaiban Kampung Nabo.

Kunjungan itu berlangsung singkat. Hanya diisi dengan obrolan sederhana. Singkong hangat teman setia kopi hitam yang ampasnya saling mengapung dan menempel di cangkir tuak menjadi peserta obrolan. Terkadang dinding berkayu ikut berceloteh tentang kelakuan angin yang dingin dan tiba-tiba datang tanpa diundang. Atau air yang kerap kali bergelayut enggan meninggalkannya, membuat dinding kayu semakin rapuh. Bambu penyangga atap pun banyak bertanya tentang kiprah saudara-saudaranya di Jawa. Apakah perannya sebagai pagar-pagar pemisah hunian manusia semakin marak, atau sudah tergantikan eranya oleh beton penancap pemisah keromantisan manusia.

Dua jam berlalu. Pak Andri pamit undur diri. Deo pun ikut serta di belakangnya. Rengekan kedua orang tua renta itu tak meluluhkan usaha pamitan. Tepat pukul sembilan malam, murid dan gurunya ini meninggalkan kampung nan damai ini. Mulai menjajah kembali jalanan yang serta merta mampu menggulingkan sepeda motor dalam sekejap. Kampung Nabo banyak membisikkan pengalaman berharga tentang istilah seadanya. Tentang orang-orang kecil yang bebas keriuhan para orator. Tentang kesederhanaan yang tiada tepi.

Dua jam berlalu. Kini, keduanya terperangkap dalam rimbunan daun sawit. Sepeda motor yang akhirnya menyerah pada bebatuan garang. Pak Andri tampak gelisah karena lolongan anjing mengisyaratkan jam sebelas malam. Namun gelisah itu akhirnya surut, ketika punggung kurus Deo mati-matian melengkung menahan kepalanya yang sesekali menengok mesin sepeda motor. Gelisah pun tergantikan rasa kagum yang begitu menyala pada murid asal Kampung Nabo itu. Dan keduanya pun tenggelam dalam malam dingin yang menghangatkan serta menyisakkan cerita dari alam yang sungguh romantis.

Terisnpirasi dari Deo dan Pak Andri

Siswa SMA 1 Meranti, Kec. Meranti Kab. Landak Kalbar

Penulis : Novian Fitri Nurani