Harum aroma dedaunan hijau menusuk hidung, membawa kehangatan hati bagi siapapun yang menciumnya. Bukti alam itu ada. Hijaunya sejauh mata memandang menebarkan sejuta keindahan pohon-pohon tinggi menjulang. Dahan-dahan yang menjuntai, angin berhembus membawa daun kering terbang turun membuat burung-burung dipagi hari lebih semangat untuk berkicau. Sejuknya embun pagi tidak akan muncul tanpa naungan pohon-pohon segar yang menebar kehijauan.

            Dikejauhan ditengah-tengah hutan tampak seorang gadis remaja berbaring diatas rumput yang masih basah karena berembun. Dia bukan gadis biasa. Dia adalah gadis hutan. Gadis yang menghabiskan waktunya hanya untuk berkeliling hutan, menjaga hutan, berteman dengan hutan. Gadis itu adalah Hana. Sebenarnya, Hana lahir dan tinggal di kota, karena dia memiliki hobi yang tidak biasa, dia lebih sering sendirian. Hana menghabiskan waktunya untuk jalan-jalan dihutan dan mempelajari pohon-pohon. Baginya, alam begitu luar biasa hebat berperan untuk kehidupan manusia. Tanpa alam manusia akan mati. Sayangnya, hanya sedikit orang yang memahami hal itu. Hana dengan sepenuh hati sudah berjanji bahwa ia akan menjaga alamnya sebagaimana alam telah menjaganya selama ini.

            Hingga suatu hari saat Hana menghabiskan waktunya dihutan seperti biasa, dia mendengar suara-suara aneh. Seperti kampak yang diayunkan lalu ditancapkan ke sesuatu berulang-ulang. Ya itu. Hana langsung terkesiap. Itu adalah suara kampak untuk menebang pohon. Hana ingin marah. Siapa yang berani sekali menebang pohon? Siapa yang berani sekali merusak alamku? Pikir Hana. Lalu dia berlari untuk mencari sumber suara tersebut. Hana tidak akan membiarkan orang bodoh itu lolos karena telah merusak hutan.

            Setelah beberapa detik dia berlari, Hana menemukan suara itu semakin dekat. Lalu dia beringsut dibalik satu pohon besar dan mengintip sesuatu didepannya. Terlihat laki-laki tinggi tegap seumuran Hana, mungkin lebih tua sedikit sedang memegang kampaknya kuat-kuat, mengangkatnya keatas sampai melewati kepalanya lalu mengayunkan kampak itu dengan cepat kedepan sampai menancap ke batang kayu didepannya. Batang kayu besar itu sudah terpotong seperempat. Hana yang melihatnya marah bukan kepalang. Bagaimana bisa laki-laki ingusan menebang pohon sembarangan? Hana harus memberinya pelajaran.

“Hey kau! Apa yang kau lakukan?” Hana menjerit kepada laki-laki itu saat dia akan mengayunkan kampaknya lagi. Laki-laki itu menoleh dengan tatapan bingung.

“Kau siapa? Gadis sepertimu seharusnya tidak berkeliaran dihutan sendirian.” Jawab laki-laki itu datar.

“Kau yang siapa? Berani sekali kau membawa benda bodoh itu untuk merusak pohon disini!” hana mengatakanya dengan sangat enteng, tapi juga gugup. Sebenarnya laki-laki itu tampan.

“Apa yang kau bicarakan? Aku sedang bekerja. Pekerjaan penebang pohon adalah menebang pohon.” Laki-laki itupun berdiri tegap menatap gadis itu.

“Ta tapi, kau merusaknya! Kau merusak pohonku. Nanti pohonku mati jika kau menebangnya.”

“Dengar ya gadis, aku tidak tahu apa tujuanmu tapi tolong jangan ganggu aku bekerja.” Laki-laki itu pun mengangkat kampaknya lagi. Sebelum sepenuhnya terangkat Hana melemparnya dengan kayu ranting dan mengenai betis laki-laki itu.

“Hey apa-apaan kau ini?” laki-laki itu menatap gadis itu dengan tajam. Hana sedikit menciut.

“Pokoknya kamu tidak boleh menebangnya.”

“Kenapa? Aku butuh uang untuk makan. Ini pekerjaanku.”

“A..Aku.. Aku mencintai hutan.” Hana mengatakanya dengan sedikit berteriak. Lalu suasana menjadi hening.

Hana meneruskan “Aku sungguh menyukai alam dan ingin selalu menjaganya. Bagiku, hutan sangat baik kepada manusia. Memberikan kehidupan kepada manusia, menyediakan kebutuhan manusia, dan memberikan rasa sejuk menyegarkan untuk dunia. Apa kau mengerti?” Hana menjelaskan semuanya sambil menunduk karena malu.

“Dengar, aku mengerti perasaanmu gadis hutan. Tapi pikirkan, bagaimana pohon-pohon atau tanaman lain menyediakan kebutuhan kita kalau kita tidak menebangnya lebih dulu?”

“Itu…itu..ya benar. Tapi…bukankah lebih baik kita menjaga nya karena manusia sudah memanfaatkannya dengan serakah. Kau lebih baik pulang dan jangan membawa kampak itu ke sini lagi.”

“Hey, memangnya kau mau memberikanku uang? Aku butuh uang! Apa kau bisa memenuhi kebutuhan hidupku jika aku harus berhenti menebang pohon demi memenuhi kemauan bodohmu itu?” laki-laki itu sekarang sudah marah. Siapa gadis aneh ini? Merepotkan, pikir laki-laki itu.

“Kau..kau marah? Kenapa kau marah?” Hana berpura-pura menantang laki-laki itu. Sebenarnya dia sedikit takut dan malu.

“Merepotkan.” Laki-laki itu lalu pergi begitu saja. Hana hanya memandangi punggungnya yang semakin menghilang dibalik pohon-pohon yang menjulang.

            Sudah beberapa hari sejak kejadian itu, Hana tidak melihat orang itu lagi. Orang sok itu yang berbuat seenaknya pada alam yang luar biasa ini. Hana berpikir apa orang itu tidak memiliki perasaan simpati pada lingkungannya? Apa orang itu tidak paham kalau pohon juga berhak hidup. Apa orang itu tidak tahu kalau sinar matahari pagi yang cerah menyinari rumput hijau memberikan sejuta manis keindahan alam. Apa dia….

Brakkk….byuur

“Ha? Suara apa tadi?” Hana bertanya pada dirinya sendiri saat telinganya mendengar suara dahan patah diikuti suara sesuatu yang jatuh ke sungai. Hana tahu karena sungai yang mengelilingi hutan ini berada tak jauh dari dirinya. Hana lalu berlari menuju sungai. Saat Hana berhenti dari larinya, dia menangkap suara orang minta tolong dari dalam sungai. Hana cepat-cepat mencarinya.

“Tolong..tolong”

“Kau? Laki-laki jahat yang kemarin.”

“To tolong aku gadis hut…” Arus menutup mulut orang itu. Hana dengan cekatan menarik sulur tanaman didekatnya lalu melemparkannya pada orang itu. “Hey, pegang sulur ini. Aku akan menarikmu.” Hana berseru. Laki-laki itu menangkap sulur tanaman dan berpegangan erat. Hana mulai meraknya perlahan-lahan. Setelah berhasil, yang ada hanyalah keheningan. Mereka berdua sedang mengatur napas karena kelelahan.

“Jadi..terimakasih.” Ucap laki-laki itu memulai percakapan.

“Tidak masalah. Lain kali berhati-hatilah.”

“Aku sedang mengambil madu di salah satu pohon sampai tiba-tiba dahan untukku berpijak patah dan aku pun terjatuh disungai.” Laki-laki itu menjelaskan.

“Itulah akibatnya jika kau merusak hutan seperti yang kau lakukan waktu itu.” Hana mengatakannya dengan lancar. Ketika tidak ada respon, Hana menoleh memandanganya. Dan ternyata orang itu sudah memandanginya lebih dulu.

“Kenapa?” Tanya Hana malu-malu. Laki-laki itu terkikik.

“Kau ini benar-benar aneh. Gadis sepertimu harusnya menghabiskan waktu untuk shopping, liburan, jatuh cinta..tapi yang kau lakukan hanya memikirkan hutan.”

“Mungkin kau benar. Tapi, alam telah menjagaku dan aku juga harus menjaganya.”

“Baiklah gadis hutan. Ceritakan padaku tentang alammu.” Sungguh tidak tahu kenapa laki-laki itu menjadi penasaran kepada Hana. Mendengar perkataan itu Hana dengan semangat bercerita.

“Kau tahu, bahwa pohon memiliki filosofi? Pohon tidak hanya sekedar penyedia kebutuhan mahluk hidup. Tapi kita juga harus melihat bagaimana mereka tumbuh. Pohon bisa tumbuh besar dan kuat dimulai dari sekeping biji yang kecil. Tumbuh akar yang semakin hari semakin kuat sebagai pondasi hidupnya. Tumbuh menebarkan dahan-dahan mereka yang lebat, menghadapi segala cuaca hingga akhirnya munculah buah manis. Semakin besar dan kuat pohon itu, semakin banyak mahluk hidup lain yang bernaung dibawahnya.” Hana menghentikan ceritanya lalu menoleh ke arah orang yang ada disampingnya.

“Namamu?” Tanya laki-laki itu sambil tersenyum tipis menatap Hana.

Hana tidak tahu orang ini bodoh atau apa. Tapi, setelah dia bercerita panjang lebar, orang itu hanya menanyakan namanya?

“Hana. Kau?” Tanya Hana dengan cuek.

“Aku Yuzo. Baiklah nona Hana, ceritamu sangat menarik. Humph…aku penasaran apa filosofi pohon bambu yang sering disepelekan orang.”

“Pohon bambu? Kurasa pohon bambu tumbuh dengan masa yang sangat lama. Tumbuh pertama membutuhkan 5 tahun. Meskipun disiram atau dipupuk tetap saja membutuhkan 5 tahun. Karena apa? Karena dia sedang mempersiapkan akarnya. Baginya akar yang kuat akan menjadikannya pohon yang kuat pula. Sama sepert manusia, untuk membangun kesuksesan kita harus memulai dari yang paling dasar, mempersiapkan permulaan yang kuat. Karena hasil yang baik berawal dari persiapan yang baik pula.”

“Hee..terimakasih telah menjelaskannya padaku.” Yuzo mengatakannya dengan tersenyum lembut.

“Sebaiknya kita kembali, hari mulai gelap.” Hana membalas senyuman Yuzo.

Mereka bangkit dari tempat duduk mereka yang basah, dan mulai berjalan kearah jalan raya. Yuzo berjalan didepan Hana. Sebelum sampai di perbatasan hutan, Yuzo mendadak berhenti. Dia menoleh kebelakang.

“Hana?”

“Hm?”

“Mulai sekarang kau tidak perlu khawatir. Mulai besok aku akan bekerja di budidaya pohon coklat. Jika kau menemukan penebang pohon sepertiku lagi, jangan beri ampun.” Kata Yuzo sebelum akhirnya dia tertawa. Yuna pun tersenyum.

“Baik.”

“Dan Hana, bisakah kita bertemu lagi? Aku ingin kau menceritakan filosofi pohon coklat.”

“Dengan senang hati, Yuzo.”

Angin berhembus lembut membelai pipi. Memberikan rasa sejuk sampai ke hati. Hangatnya sinar matahari, hijaunya pepohonan sejauh mata memandang, nyanyian riang para binatang, sungguh perpaduan alami yang manis dari alam untuk kehidupan.

Penulis : WENI NUR MAGFIROH “Archyko Magfi”