Bunga-bunga semakin layu dan kusam

Pesona keindahan alam tiada lagi menyehatkan

Pandangan mata terasa tidak nyaman melihat sekitar

Apalagi hanya wujud fisik yang bisa dipegang

Tanpa ada rasa kenikmatan kesejukan mengenang

Bak jagat dan ruang gelap  tanpa penerang

 

Tangisan kesedihan mengalir menyelimuti awan

Cahaya matahari memancar memudar dan menenggelam

Menyisakan panorama kecantikan dan keelokan taman

Meninggalkan budaya adat luhur warisan silam

Keagungan keluhuran ketulusan satu kesatuan tak terpisahkan

Namun kini hanya sekedar cerita kelam

 

Wanita sebagai pelayan nafsu kebiadaban

Tiada derajat martabat yang sejajar dan sepadan

Apalagi ruang gerak beranjak bersandar tangan

Melepas jeritan dan tangisan atas penindasan

Ribuan siksaan terus berlalu tanpa aturan

Pusaka kecantikan keindahan terbawa arus penistaan

 

Kapan…..?, dan kapannnnnn…..?,  terjadi persamaan……?

Jika semua hanya diam membisu berpangku tangan

Menungggu belas kasihan orang perlahan-lahan

Dengan langkah tertatih lunglai penuh sendu arak-arakan

 

Kumpulan Puisi “Elegi syair untuk Kartini”, Aris Priyanto