Merenda Kisah

Harga  : 34.000

Penulis : Siswa Siswi SMA N 1 Brebes

Penerbit : Ernest (CV. Achmad Jaya Group)

Halaman :xi + 105 hlm; 13 cm x 19 cm

Cetakan pertama, Desember 2017

 

——————————————————————————————————————————————————————

 

“Uhuk… uhuk… uhuk…” suara batuk nenek terdengar keras sekali.Seusai bekerja, aku bergegas pulang. Hatiku  senang, hari-hari yang teramat aku impikan akhirnya menjadi kenyataan. Besok aku dapat bersekolah! Sungguh suatu keajaiban untukku. Akhirnya setelah bertahun-tahun putus sekolah, sekarang aku dapat bersekolah lagi. Dari kecil, aku sudah yatim-piatu. Aku hanya tinggal berdua dengan Nenek. Semenjak Nenek sakit, aku lah yang menjadi tulang punggung. Dengan kondisi yang tidak mendukung ini, akhirnya aku memutuskan untuk putus sekolah. Sesampainya di rumah, semua nampak berantakan. Semua benda berserakan tidak pada tempatnya.

“Nek… Nenek kenapa?” Tanyaku cemas.

“Maafkan Nenek, Bujang. Maafkan Nenek. Nenek sudah tidak kuat, Bujang. Pandangan Nenek sudah kabur, semuanya tidak jelas.” Ujar nenek semakin lemah.

“Tidak Nek, jangan bilang begitu! Bujang pasti akan belikan nenek obat. Tapi, Nenek makan dulu yah…”

Sambil menyuapkan nasi ke mulut nenek, tak terasa air mataku mengalir. Untuk kesekian kalinya, aku mengurungkan niatku untuk bersekolah, itu karena aku tidak tega meninggalkan Nenek lama-lama sendirian, apalagi dengan kondisi Nenek yang semakin memburuk. Aku terdiam sejenak, nasi di tangan sudah habis dimakan. Aku pandangi wajah tua itu, terlelap nyaman di atas tikar yang nampak kusam. Aku tatap dia lekat-lekat, semakin kutatap, semakin banyak goresan usia yang melekat di wajahnya. Nenek yang kusayang, terbaring semakin lemah. Sesekali aku tidak merasakan embusan napasnya. Hatiku berdebar kencang melihat kondisinya.

Nek, jika engkau pergi, siapa lagi yang akan menemaniku? Siapa lagi yang akan menasihatiku? Siapa lagi yang akan menyemangatiku menghadapi kerasnya hidup? Siapa lagi yang akan memarahiku? Siapa lagi yang akan memukulku? Nek, aku merindukanmu, merindukan Nenek yang kuat seperti dahulu. Nenek yang tak pernah pasrah, Nenek yang selalu menggenggam tangan cucunya di kala senang maupun susah. Nek, kumohon jangan pergi, jangan tinggalkan aku, Nek. Aku sangat sayang padamu.

Tiba-tiba hujan turun, seakan bumi pun merasakan kesedihan hatiku. Hujan lebat disertai kilat dan guntur yang silih berganti. Semakin menambah kelam malamku ini. Tangisku mengalir bersama derasnya hujan. Petir yang seakan tak berhenti menyambar, menjadikan isakku tak lagi terdengar. Kesedihanku, mengalir bersama sang hujan.

“Nenek, tahukah engkau betapa rapuhnya diriku ini? Betapa lemahnya cucumu ini? Sungguh, aku tak sanggup apabila kau pergi,” suaraku pelan membisikkan ke telinga nenek. Rupanya nenek masih dapat mendengar lirih suaraku. Aku melihat air matanya mengalir membasahi kedua pipi tuanya. Entahlah, aku merasa lebih lega karena malam ini nenek masih bernapas.

Leave a Comment

two × two =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Buku Terbaru Kami

News

LICHT IN HOLLAND

Judul : Licht In Holland Tahun : 2018 Penerbit : Redaksi Ernest ISBN 978-602-5640-57-5 Harga…

Profil

  Profil Penerbit Ernest Penerbit Ernest merupakan penerbit indie/ self publishing yang berdiri dibawa naungan…

Hubungi Kami

Sponsorship

Reseller/Distributor

Syarat Menjadi Reseller/ Dropship Surat pengajuan bergabung menjadi reseller / dropship Biodata diri (Nama, Alamat…

Mitra lini

Buat kamu, yang sudah mengorbankan waktu.... tenaga..... pikiran....kesabaran....namun belum melihat cahaya suksesmu... Jangan menyerah...... karena…

Kirim Naskah

1. Naskah novel/ Antologi Cerpen/ Antologi Cerpen Ukuran kertas A4 Margin standard Times New Roman…

Instagram Penerbit Ernest